Sabtu, 30 Desember 2017

Prinsip kesetiaan pada profesi merupakan syarat dasar sebuah kesuksesan dan kemenangan hidup




MBAH

“Indonesia pernah punya 2 Mbah yang luar biasa. Mbah Surip dan Mbah Marijan. Kedua manusia uzur yang sudah almarhum itu telah membuktikan bahwa mereka mampu  menjalani hidupnya secara jantan dan penuh makna.

Hidup yang punya nilai!”

Kalau negeri Paman Sam punya Kolonel Sanders dan Abraham Lincoln, maka Ibu Pertiwi tak mau kalah, kita punya yang namanya Mbah Surip dan Mbah Marijan. Secara kontekstual, keduanya fenomenal. Mbah Surip meledak dengan lagu “Tak Gendong” di usia senja, dan terkenal dengan kalimatnya “ I love you full!” Sedangkan Mbah Marijan luar biasa ketika ia menunjukkan kesetiaan sampai akhir hayat menunggu Gunung Merapi (terlepas dari segala kontroversi benar salahnya).

    




Tentu saja, kebenaran ini bukan melulu soal memulai sukses di usia senja, tapi lebih pada semangat kesetiaan pada profesi, apa pun profesi yang kita terkuni. Fenomena kedua Mbah ini lebih ditujukan pada segelintir generasi muda Indonesia, yang masih terbelit oleh dunia sempit tempurung kepalanya, terjebak pada narkotika, tawuran, seks bebas, dan jauh dari kesetiaan dan ketekunan terhadap profesi yang ditekuni saat ini. Inilah saatnya berkaca dan mentransformasikan diri.

    
Dari alam sana, saya seolah menatap salah seorang Mbah dengan prihatin bergumam pada generasi muda yang menyia-nyiakan hidupnya, “I love you full!” Indonesia membutuhkan banyak manusia muda dengan kualitas seperti kedua Mbah itu. 

Prinsip kesetiaan pada profesi merupakan syarat dasar sebuah kesuksesan dan kemenangan hidup. 

Yooiii!!


Jumat, 29 Desember 2017

Memulai sukses ternyata bisa dimulai pada penggalan usia berapa pun




SENJA

“Kolonel Sanders memulai  dan sukses dengan KFC pada usianya yang sudah renta, Lincoln menjadi presiden di atas usia 50 tahun. Banyak dari kita, ketika menapak usia senja dan merasa “belum jadi apa-apa”, menjadi rendah diri dan berat melangkah. 

Memulai sukses ternyata bisa dimulai pada penggalan usia berapa pun, bahkan setahun menjelang ajal sekalipun”.

Jadi apalagi yang mesti dikhawatirkan? Usia ternyata tak perlu menjadi halangan, itu fakta. Tapi, yang lebih membahayakan adalah sebuah kondisi, di mana manusia cenderung sudah tak mau apa-apa lagi ketika menapak usia senja dan merasa belum jadi apa-apa.
    
Manusia semacam itu merasa bahwa umur tidak lama lagi, kalaupun sukses toh tak akan terlalu lama menikmatinya. Sesungguhnya, orang-orang semacam ini adalah orang-orang yang egois, dan sesungguhnya, yang paling dirugikan oleh egoismenya adalah dirinya sendiri. Biasanya mereka lebih suka melakukan rasionalisasi, mencari alasan, dan seterusnya.
    
Peribahasa “tua-tua keladi, makin tua makin menjadi” (dalam konteksnya yang positif) relevan dengan prinsip kebenaran ini. Ingatlah Tuhan memberikan kita hak untuk sepenuhnya untuk memilih kapan kita mau memulai sukses, termasuk setahun menjelang ajal sekalipun. Ini merupakan prinsip (spiritual) yang sudah pasti kebenarannya. 

Teruslah berusaha!

OUTCOME adalah GOAL yang sudah anda bayangkan dan rasakan kenyataannya dalam diri Anda.



SETTING OUTCOME

Sebelum Saya sharing banyak hal menarik tentang penjualan kepada Anda, pastikan Anda terlebih dahulu TAHU dan PAHAM apa sebenarnya Outcome Anda saat membaca artikel ini.
Saya tidak akan dulu cerita dan memberikan anda banyak  Tips, trik, teknik, bahkan strategi. Saya ingin anda memikirkan Outcome Anda setelah selesai membaca artikel ini.

Ya, Anda sedang tidak salah baca. Yang Saya katakana adalah OUTCOME  bukan GOAL, bukan IMPIAN. Apa bedanya ?

Mari Saya jelaskan…

OUTCOME adalah Goal yang benar-benar sudah dapat Anda bayangkan dan rasakan kenyataannya dalam diri Anda. Ia begitu melekat dalam diri Anda seakan-akan hal tersebut benar-benar terjadi.

Masih bingung?

Begini…Impian bisa jadi ngawang-ngawang, bahkan tidak jelas tak jarang kita hanya asal sebut, tanpa memikirkan secara detail apakah kita sanggup mencapainya atau tidak .

Goal akan mulai SMART (SPESIFIC : Jelas, Measurable : Terukur, Achievable : Dapat Dicapai, Realistic, Timely : Berbatas waktu ).

Dan OUTCOME adalah GOAL yang sudah anda bayangkan dan rasakan kenyataannya dalam diri Anda.

Mari Saya jelaskan dengan contoh yang lebih ril dalam dunia penjualan …

Ketika Saya ingin mencapai peringkat Presiden Direktur *1 di Woo Tekh, goal saya sudah sangat jelas dan gamblang : “mencapai omzet atau TGS Rp.4.800.000.000”

Saat Saya mengungkapkan goal tersebut, Saya ingin mengubahnya menjadi Outcome. Maka Saya pastikan sumber daya yang Saya miliki saat ini benar-benar bisa mengantarkan Saya untuk mencapai goal tersebut.

Saya dapat mengetahui goal tersebut tercapai ketika Saya melihat angka penjualan di laporan keuangan bertuliskan “Rp.4.800.000.000 TGS” dan merasakan begitu ramainya orderan yang masuk ke tim Saya.

Saya dapat menyaksikan dengan jelas kesibukan orang-orang bagian operasional  dalam mempacking dan mengirimkan produk-produk tersebut ke customer.

Saya pun dapat mendengarkan semangat mereka dalam melakukannya. Mendengarkan puji-pujian dari berbagai pihak akan prestasi yang baru Saya capai.

Dan Saya benar-benar dapat merasakan kebanggaan dan kebahagiaan ini terjadi pada saya.
Saat ini terjadi pada Saya,  Saya semakin semangat untuk terus berkarya dan menebarkan manfaat lewat produk kesehatan. Dan saat ini tercapai, energy ini begitu besar dan menggelora. Benar-benar luar biasa!

Alhasil, gara-gara hal tersebut, bisnis saya semakin tumbuh dan berkembang. Woo Tekh Bisnis semakin di kenal. Dan Saya sangat bersyukur sekali akan hal itu.

Bagaimana, apakah anda dapat melihat, mendengar, dan merasakan perbedaan dari cara Saya merumuskan Outcome?

sumber ilmu : dari Buku DEWA Selling by Dewa Eka Prayoga

Rabu, 27 Desember 2017

Jualan adalah aktivitas menolong orang yang DIBAYAR…

 

 

ESENSI JUALAN


Banyak orang yang baru pertama kali menjadi pengusaha dan meniti karir sebagai penjual, mereka putus asa dan menyerah ketika di tolak mentah-mentah oleh para calon pembelinya. Padahal kalau di pikir-pikir, menjual adalah aktivitas yang sangat mulia.

“ Jualan adalah aktivitas menolong orang yang DIBAYAR…”

Agar kita tidak termasuk orang yang putus asa dan menyerah saat menjual, alangkah baiknya mengetahui terlebih dahulu mengenai esensi jualan itu sendiri.

Apa sebenarnya esensi jualan itu?

Esensi jualan yang pertama adalah MENOLONG ORANG.

Tanpa disadari, jualan adalah proses pertukaran antara uang dan manfaat. Setiap  uang yang di keluarkan  oleh pembeli akan di tukar dengan manfaat yang di kemas dalam bentuk produk  baik berupa barang ataupun jasa. Setiap manfaat pasti memiliki kemampuan untuk memenuhi  keinginan, kebutuhan, bahkan menyelesaikan sebuah permasalahan. Bayangkan … Jika seandainya  banyak orang di luar sana  yang tertolong karena hadirnya produk kita, kita tentu senang bukan ?
Jika niat kita adalah MENOLONG ORANG, kalaupun ditolak, kenapa harus gundah gulana? Masuk akal?

Mulai saat ini, ketika jualan, munculkanlah  rasa ingin menolong orang. Niatkanlah  didalam hati bahwa  penawaran yang di berikan adalah sebuah penawaran “ pertolongan “  atas keinginan, kebutuhan, atau permasalahan yang sedang ia hadapi. Harapannya, dengan hadirnya produk kita, semua hal tersebut dapat terselesaikan. Dengan begini, ketika ia membeli, kita bersyukur, dan ketika ia menolak, kita tak perlu kecewa, karena sedari awal niatan kita adalah menolong.

Esensi jualan yang kedua adalah MENEBARKAN MANFAAT.

Bisa Anda bayangkan, saat jualan, minimal kita sedang membantu mendistribusikan produk dan manfaat ke banyak orang. Lebih dari itu, ketika jualan, kita sedang mendorong berputarnya uang. Kecepatan dan volume perputaran uang di sebuah masyarakat menentukan kesejahteraan masyarakat tersebut. Indonesia adalah salah satu contohnya .

Ketika Eropa dan Amerika sedang dilanda krisis besar-besaran, Indonesia malahan menembus pendapatan perkapita hinga 3000$ per tahun. Mengapa? Karena penduduk kita suka jualan . Mulai dari pedagang kaki lima, ibu-ibu arisan, mahasiswa, hingga orang-orang di perkantoran. Proses jual beli ini yang meratakan distribusi uang. jika distribusi uang sudah merata, Indonesia akan sejahtera.

Kalau sudah begitu, hal apa saja yang membuat kita pasrah dan menyerah saat menghadapi penolakan  dan kegagalan saat menjual?
Ketika seseorang memahami ilmu namanya “REFRAMING”, maka tak ada lagi makna buruk terjadi pada dirinya, kecuali dirinya mengizinkan itu terjadi.

Misalnya :

Bangkrut ?
Cara Allah mendewasakan kita agar kembali pada-nya…

Ditipu ?
Cara Allah memberikan pelajaran pada kita untuk lebih hati-hati dan tidak mudah percaya pada orang.

Rugi ?
Cara Allah memberitahu kita untuk mengubah cara main bisnis agar lebih menguntungkan lagi.

Gagal ?
Cara Allah mengatakan “bersabarlah, aku memiliki sesuatu yang lebih baik untukmu “

Ditolak Prospek ?
Cara Allah mengingatkan kita untuk mengganti strategi jualan dan agar jadi lebih tahan banting

Ditolak Calon ?
(Isi sendiri ) ᶺ_ᶺ

Kegagalan itu Cara Allah Mengatakan “Bersabarlah” Aku Memiliki Sesuatu yang Lebih Baik Untukmu

Sumber dari Buku DEWA Selling by Dewa Eka Prayoga

Selasa, 26 Desember 2017

Tuhan terharu karena melihat apa yang kita lakukan





“Ketika engkau memberi di saat mempunyai atau berlebih, engkau akan membuat Tuhan tertawa karena Dia senang melihatmu. Namun, ketika engkau masih mau memberi di tengah kekuranganmu, engkau akan membuat Tuhan tersenyum karena Dia terharu melihatmu.”

Kalau kita terharu oleh kebaikan, kehebatan, kebesaran, dan kemuliaan Tuhan, itu sudah biasa!

Tapi, kalau kita bisa membuat Tuhan terharu karena “kesedihan” kita memberi di kala kita sendiri kekurangan, itu baru luar biasa! Ya, Tuhan terharu karena melihat apa yang kita lakukan.
Bersiaplah mendapatkan berkat dan pahala yang luar biasa. Tidak berani mencoba? Rugi sendiri.